Home | Profile | Map | Contact

Profil
· Profil Panti
· Visi dan Misi dan Moto
· Struktur Organisasi
· Prosedur Pelayanan
· Mekanisme Penerimaan

Menu Utama
· Depan
· Akun Anda
· Arsip Berita
· Downloads
· Gallery
· Kirim Berita
· Kontak
· Search
· Top 10
· Web Links

Pencarian



Languages


English Indonesian

Login
Nama Login

Password

Daftar
Lupa Password.


REMAJA DAN KAMPUS: SUATU TANTANGAN SOSIAL
Dikirim oleh robin - pada Kamis, 03 Desember 2020
Berita

 REMAJA DAN KAMPUS: SUATU TANTANGAN SOSIAL

 

Oleh:
Triyoni Rakhmawati, S.ST.
NIP. 197511222008012006
(Penyuluh Sosial Muda)
triyonirakhmawati2211@gmail.com
 
 
Pendahuluan
Ketika kata “kampus” disebut, yang tergambarkan adalah suatu kawah candradimuka yang siap mencetak generasi muda terpelajar dengan masa depan yang gemilang. Frase “kampus” juga lekat dengan klasifikasi semester yang ditempuh oleh banyak anak muda, di situ berlaku asumsi ideal yang menyatakan bahwa semakin tinggi level yang dicapai berbanding lurus dengan tingkat keilmuannya, moralitasnya, dan akhlaknya.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mengamanatkan kepada Pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Pasal 31 ayat (3) menyatakan bahwa:
“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”
 
Selain itu, sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora serta pembudayaan dan pemberdayaan bangsa Indonesia yang berkelanjutan. Untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam menghadapi globalisasi di segala bidang, diperlukan pendidikan tinggi yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menghasilkan intelektual, ilmuwan, dan/atau profesional yang berbudaya dan kreatif, toleran, demokratis, berkarakter tangguh, serta berani membela kebenaran untuk kepentingan bangsa (Konsiderans UU Dikti).
 
Namun demikian, entitas yang ada justru sebaliknya. Hampir di semua perguruan tinggi, tingkat pendidikan yang diperoleh tidak menjamin tingginya tingkat keilmuan, moralitas, dan akhlaknya. Bahkan sebaliknya, tidak sedikit mahasiswa yang berperilaku antiklimaks. Semakin tinggi jenjang semester yang berhasil diraih, berindikasi pada semakin mereka merasa bebas dan berani menerabas segala tatanan nilai-nilai sosial yang ada di dalam masyarakat. Pada sebagian mahasiswa, arogansi juga menjadi tinggi seiring dengan tingginya semester yang diraih. Mereka sudah merasa hebat dan tidak mau lagi diatur, termasuk tidak bersedia lagi mendengarkan nasihat-nasihat sosial yang sesungguhnya baik untuk diikuti oleh remaja yang berada dalam tahap mencari jati diri.
 
 
Problematika Sosial di Kampus
Selain sikap acuh terhadap tatanan sosial, segelintir remaja produktif tersebut malah terjebak dalam keadaan sosial yang terdistorsi, bahkan terdegradasi. Tidak hanya melakukan delinkuensi, tetapi hingga melakukan aksi kejahatan. Dimulai dari tindakan-tindakan menyimpang yang sederhana seperti bullying, hingga kriminalitas yang memakan korban (common crime) dan kriminalitas tanpa korban (crime without victim).
Aksi bullying merupakan perbuatan yang paling banyak ditemukan di dunia kampus. Bentuk tindakan ini sering menyasar kepada korban-korban mahasiswa yang memiliki kecenderungan untuk “diserang”. Misalnya dalam kasus-kasus mengalami keterbelakangan mental, lemah dalam salah satu penguasaan materi, memiliki status sosial rendah, memiliki kebiasaan buruk, memiliki sejarah yang memalukan (aib), dan mengalami keterbatasan fisik. Kondisi ini jelas merusak tatanan sosial yang telah susah payah dibangun di lingkungan kampus yang secara otomatis melemahkan kampus dari fungsi sosialnya.
 
Selain aksi bullying, kriminalitas dengan memakan korban (common crime) juga pernah terjadi di lingkungan kampus. Suatu ironi yang telah menjadi sebuah fakta, ketika anak-anak muda yang sejatinya ditempa untuk menjadi sarjana itu malah berbelok arah menjadi seorang terpidana. Sejumlah kejahatan tercatat pernah dilakukan oleh para mahasiswa, misalnya mencuri kendaraan bermotor, menipu, membobol rumah kost, merampok/merampas (begal), memeras sesama teman, hingga tindakan-tindakan asusila seperti pelecehan seksual hingga pemerkosaan. 
Kriminalitas tanpa korban atau dikenal dengan self crime atau crime without victim juga turut menambah beban permasalahan-permasalahan sosial di dunia kampus (Darmawan, 2007: 3.2-3.3). Aksi bunuh diri mahasiswi karena putus cinta, penyalahgunaan narkotika dan psikotropika, serta prostitusi kampus ataupun gratifikasi seksual turut menjadi bagian kelam dari kehidupan mereka yang menyandang label akademisi.
Ketiga kondisi sosial yang terkait dengan permasalahan hukum di atas memang tidak terjadi di setiap institusi perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Akan tetapi, fenomena-fenomena di atas tetap dapat mencitrakan sisi kelam pada dunia pendidikan tinggi di negara ini. 
Problematika-problematika di atas belum termasuk dengan pola pergaulan bebas muda-mudi yang sering terjadi di kalangan remaja kampus. Pergaulan bebas juga termasuk ke dalam pola-pola perilaku yang dapat merusak tatanan sosial di dalam masyarakat. Patut disayangkan bahwa hubungan seks di luar nikah orang yang berstatus lajang belum dikategorikan sebagai pelanggaran hukum dalam delik perzinahan dalam hukum di Indonesia, sehingga tidak ada pasal yang dapat menjerat mereka kecuali hanya sanksi adat dan sanksi moral dari masyarakat. Sampai di sini, terbuka pula fakta bahwa lemahnya regulasi hukum dalam tataran remaja dan kampus telah menjadi pekerjaan rumah yang vital bagi pemerintah.
 
Kesimpulan
Remaja dan kampus adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Remaja merupakan fase kehidupan produktif di mana segenap tenaga dan konsentrasi dimiliki, sedangkan kampus diasumsikan sebagai gudang ilmu dapat berperan sebagai sarana pengembangan diri dan pendidikannya. Atas dasar inilah dibutuhkan suatu formulasi tepat yang dapat menumbuhkan kesadaran yang tinggi bagi para remaja, sehingga mereka dapat memahami bahwa keberadaan mereka di kampus adalah untuk berkompetisi dalam mempersiapkan diri menuju dunia kerja. Suatu formulasi baik dalam bentuk kebijakan regulasi maupun dalam bentuk aksi nyata dari pihak kampus untuk mewujudkan remaja kampus yang sadar akan kompetensi diri. Fokus ini tidak boleh terdistorsi dengan tata pergaulan sosial yang keliru, sehingga menjerumuskan mereka dalam hal-hal yang tidak diharapkan seperti aksi bullying, common crime, dan crime without victim.
Di samping peran serta orang tua dan wali, pihak perguruan tinggi sangat berperan terhadap tumbuh kembang remaja yang belajar di lingkungan kampus, khususnya kepada fakultas, para dosen, dan pembimbing akademik. Kepada mereka telah dititipkan anak-anak muda yang potensial, anak-anak muda yang siap ditempa dan dikelola untuk menjadi manusia yang kelak akan berguna bagi nusa dan bangsanya.
 
Daftar Pustaka
Darmawan, Kemal, Teori Kriminologi, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.
Undang Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen Keempat.
Undang Undang Nomor 20 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.
 



 
Link Terkait
· Lebih Banyak Tentang Berita
· Berita oleh robin


Berita terpopuler tentang Berita:
Pembuatan Sirup Jeruk Kalamansi


Nilai Berita
Rata-rata: 0
Pemilih: 0

Beri nilai berita ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek


Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak


Topics Terkait

UPT

Powered by the AutoTheme HTML Theme System
Page created in 0.209153 Seconds