Home | Profile | Map | Contact

Profil
· Profil Panti
· Visi dan Misi dan Moto
· Struktur Organisasi
· Prosedur Pelayanan
· Mekanisme Penerimaan

Menu Utama
· Depan
· Akun Anda
· Arsip Berita
· Downloads
· Gallery
· Kirim Berita
· Kontak
· Search
· Top 10
· Web Links

Pencarian



Languages


English Indonesian

Login
Nama Login

Password

Daftar
Lupa Password.


DELINKUENSI: CIKAL BAKAL KRIMINALITAS DALAM PERSPEKTIF SOSIAL
Dikirim oleh robin - pada Kamis, 03 Desember 2020
Berita
DELINKUENSI: CIKAL BAKAL KRIMINALITAS 
DALAM PERSPEKTIF SOSIAL
 
Oleh:
Triyoni Rakhmawati, S.ST.
NIP. 197511222008012006
(Penyuluh Sosial Muda)
triyonirakhmawati2211@gmail.com
 
Pendahuluan
Terdapat dua pengelompokan usia dalam perbuatan menyimpang yang mengusik tatanan sosial di dalam masyarakat, yaitu: Kenakalan dan Kejahatan. Kejahatan merupakan perbutan manusia yang bertentangan atau melanggar kaidah-kaidah hukum pidana (Darmawan, 2007: 2.2), sedangkan kenakalan/delinquent atau perilaku nakal adalah suatu tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh kalangan muda usia di bawah usia 18 (delapan belas) tahun, apakah itu kriminalitas ataupun bukan (Marwan, 2007: 160). 
Tindakan kenakalan tersebut, biasanya berwujud tindakan seperti berbohong, mengingkari janji, mengganggu teman, mengejek (bullying), dan sebagainya. Bahkan hingga melakukan tindakan kriminal yang tergolong treason, felonies, maupun misdemeanor (Soeprapto, 2012: 7.13). Kendatipun merupakan perbuatan kriminal, dalam kacamata hukum dan sosial, perbuatan tersebut tetap digolongkan sebagai kenakalan, dikarenakan ia dilakukan oleh anak-anak yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun atau dalam tanggung jawab orang tua/wali (pengampu).
Problematika yang besar terjadi ketika seorang atau sekelompok remaja pada akhirnya melakukan tiga perbuatan kriminal yang tergolong pada perbuatan treason, felonies, maupun misdemeanor. Sebab, ketiga perbuatan yang keseluruhannya menelan korban itu sejatinya bukanlah perbuatan pelanggaran ringan ataupun kejahatan ringan. Perkosaan massal yang diikuti dengan pembunuhan terhadap seorang pelajar yang pernah terjadi di Rejang Lebong misalnya. Meskipun dilakukan oleh sekelompok remaja yang salah arah, tetapi perbuatan itu tidak dapat dipungkiri bahwa mereka telah melakukan felonies (kekejaman) yang patut dihukum berat selayaknya kejahatan.
UU No. 23 Tahun 2003 sebagaimana yang telah diperbarui dengan UU No. 17 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Undang Undang Perlindungan Anak.
UU No. 23 Tahun 2003, pada Pasal 16 menyatakan bahwa:
(1) Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi;
(2) Setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum;
(3) Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.
 
Berdasarkan ketentuan di atas, setiap pelaku delik yang berstatus anak masih memiliki hak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Apabila ia dikenakan tindakan-tindakan hukum, maka tindakan hukum tersebut haruslah merupakan upaya hukum terakhir untuk menghentikan perbuatannya. 
Sampai di sini, terbentuklah suatu ambiguitas. Sebab pada satu sisi, perbuatan kejahatan (felonies) yang telah dilakukan harus dipertanggungjawabkan melalui penegakan hukum yang berkeadilan. Akan tetapi, Pada sisi lain pelaku felonies yang berada di bawah usia 18 (delapan belas) tahun tetaplah berstatus sebagai seorang anak yang dilindungi oleh pemerintah.
 
Dapatkah Delinkuensi Dipidana?
Usia remaja merupakan usia yang berada pada masa transisi, yaitu masa usia yang dialami oleh sekelompok anggota masyarakat yang berada pada masa peralihan antara masa kanan-kanan menuju masa dewasa, dan peralihan dari masa berinteraksi internal dengan keluarga atau orang tua ke masa interaksi dengan anggota masyarakat yang lebih luas. Kondisi remaja yang baru meninggalkan masa kanak-kanaknya itu sesungguhnya belum mampu menjalani masa kedewasaan secara utuh, sehingga segala sesuatu yang dijalaninya masih bersifat mencoba-coba. Oleh kaena itu, sering kali tindakannya menimbulkan hal-hal yang kurang menyenangkan bagi dirinya sendiri maupun orang lain di lingkungan sosialnya.
Hal utama yang menonjol pada masa remaja umumnya tercermin dalam perbuatan-perbuatan, sikap, perasaan maupun kehendaknya. Ciri-ciri tersebut antara lain meliputi: Suka menentang pendapat orang tua, egois, gelisah, tidak tenang, berperilaku tidak sopan, ceroboj, malas, mudah tersinggung, dan lain sebagainya. Kondisi-kondisi demikian, apabila tidak ditanggulangi sejak dini maka akan berakhibat pada kenakalan (delinquent) dan dapat berujung pada kejahatan (Soeprapto, 2012: 7.14).
Delinkuensi dan delik (tindak pidana) pada hakikatnya adalah sama dalam perspektif sosial, sebab keduanya sama-sama menciptakan kondisi yang bersifat destruktif terhadap tatanan sosial yang dibangun di dalam masyarakat. Perbedaannya ada pada sisi pelakunya, dalam hal suatu pelanggaran atau kejahatan diatributkan kepada remaja di bawah usia 18 (delapan belas) tahun, maka ia merupakan suatu kenakalan, sedangkan perbuatan serupa yang dilakukan oleh orang dewasa tergolong pada tindak kriminalitas.
 
Menurut William J. Marshall dan William Clark, terdapat tiga jenis kriminalitas berdasarkan tingkatannya, yaitu:
1. Treason (pengkhianatan)
Treason adalah bentuk pengkhianatan dari skala yang kecil hingga skala yang besar. Pengkhianatan kecil dapat berupa pembunuhan terhadap istri atau suami, menganiaya orang tua, dan lain sebagainya. Adapun pengkhianatan besar adalah pengkhianatan terhadap bangsa dan negara berupa makar terhadap presiden, desersi, dan membocorkan rahasia negara.
2. Felonies (kekejaman)
Felonies adalah bentuk kejahatan yang berada di luar batas kemanusiaan dan biasanya pelakunya diancam dengan hukuman berat termasuk hukuman mati. Contoh dari perbuatan ini adalah mutilasi, pembunuhan dengan penganiayaan, perampokan dengan pelukaan, dan lain sebagainya.
3. Missdemeanors  (kejahatan)
Missdemeanors adalah bentuk kejaatan yang berada di luar treason dan felonies, misalnya perbuatan-perbuatan menyimpang yang dapat diberikan toleransi seperti pencurian ringan, penipuan ringan, penghinaan ringan, dan lain-lain. (Soeprapto, 2012: 7.9-7.10)
Delinkuensi yang berwujud misdemeanors (kejahatan) ringan tidak akan menjadikan seorang anak berhadapan dengan hukum. Berbeda dengan treason (penghianatan) dan felonies (kekejaman) yang tidak ada unsur keringanan di dalamnya. Berdasarkan perspektif sosiologi hukum di atas, maka perbuatan menyimpang yang dilakukan anak-anak tidak akan diproses secara hukum hingga dapat dibuktikan unsur-unsur treason dan/atau felonies yang ada di dalamnya.
 
Kesimpulan
Tidak semua perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh anak-anak ataupun remaja yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dapat digolongkan kepada tindakan delinkuensi. Parameter yang menjadikan suatu delinkuensi sebagai suatu kriminalitas adalah adanya unsur treason dan felonies yang jelas-jelas memakan korban dan berdampak besar bagi cideranya nilai-nilai sosial di dalam masyarakat.
Perbuatan menyimpang terhadap hukum yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja tetap akan diproses menurut hukum yang berlaku bilamana ia menimbulkan kerusakan berat (great defect) terhadap tatanan sosial yang dibangun. Sebab apabila perbuatan-perbuatan fatal tersebut tetap digolongkan sebagai delinkuensi, maka keadilan tidak akan terwujud dalam sebuah komunitas besar yang bernama negara.
 
Daftar Pustaka
Darmawan, Kemal, Teori Kriminologi, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.
Marwan, M., dan Jimmy P., Kamus Hukum, Surabaya: Reality Publisher, 2009.
Soeprapto, Sosiologi Hukum, Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2012.
UU No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.
UU No. 17 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Undang Undang Perlindungan Anak.
 



 
Link Terkait
· Lebih Banyak Tentang Berita
· Berita oleh robin


Berita terpopuler tentang Berita:
Pembuatan Sirup Jeruk Kalamansi


Nilai Berita
Rata-rata: 0
Pemilih: 0

Beri nilai berita ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek


Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak


Topics Terkait

UPT

Powered by the AutoTheme HTML Theme System
Page created in 0.213494 Seconds